Belajar tentang ayat ini, saya jadi malu sendiri...
Dalam ayat ini, diceritakan bahwa Nabi Nuh adalah seseorang yang terlampau banyak bersyukur. Allah memberinya apresiasi sebagai hamba yg selalu bersyukur dan menjadikannya teladan bagi keturunannya karena usaha Nabi Nuh yg selalu menjaga rasa syukur sejak bangun hingga tidur lagi, bahkan untuk hal-hal kecil seperti saat memakai sepatu pun beliau bersyukur atas nikmat kaki yg masih diberi kekuatan untuk menopang badan. Nikmat yg sering saya lupakan.
Syukur itu terkadang lebih mudah terucap saat kondisi diri sdg lapang, atau ketika Allah memberikan sesuatu yang saya inginkan setelah usaha yang begitu keras.
Sementara saat Allah tidak menghendakinya, langsung ngeluh, kenapa saya harus mengalami ini? Seakan lupa atas sekian banyak nikmat yg sudah Allah beri.
Keluhan-keluhan kecil yg melunturkan syukur semacam, ya Allah kok susah banget pengen me time? Lupa kalau selama ini Allah kasih nikmat bisa banyak menghabiskan waktu bareng keluarga, sementara yang lain belum tentu mendapatkannya.
Kenapa sih cucian sama lipetan baju teh gak beres-beres? (Curhat banget lah ini 😅)
Lupa mensyukuri nikmat tangan yang masih dikasih kekuatan untuk nyuci dan lipat baju.
Pelajaran penting buat saya agar gak menyandarkan rasa syukur sama kondisi. Karena faktanya Allah itu selalu memberi apapun yang kita butuhkan tanpa harus kita minta dalam kondisi apapun kita. Mau lagi sempit atau lapang, susah atau senang, sehat atau sakit, selalu ada nikmat dari Allah yg bisa kita syukuri kalau kita mau lebih peka atas setiap kebaikan dari Allah.
0 komentar:
Posting Komentar