Makan bagi seorang muslim bukan sekedar aktivitas fisik, tapi lebih dari itu, kondisi hati dan ruhiyahnya pun akan sangat dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.
Kalau mau dirunut, penjelasan tentang makanan yang thayyib ini gak berhenti hanya di fisik makanan yang bersih dan bermanfaat, tapi ada yang harus diteliti juga apakah penghasilan yang digunakan untuk membeli makanan tsb bersumber dari pekerjaan yang halal.
Maka menghadirkan makanan yang halal dan thayyib dalam keluarga menjadi hal yg urgent bagi ayah juga ibu. Ayah sebagai penjemput nafkah mesmastikan harta yg diamanahkan terhindar dari hal-hal yang tidak sesuai syariat. Ibu sebagai koki keluarga berusaha mengatur menu, memilih bahan, dan mengolah masakan yang sudah dipastikan halal dan thayyib sehingga masakan yang disajikan tujuannya bukan hanya untuk memanjakan lidah tapi untuk menguatkan ibadah.
Ayat ini jadi sentilan banget buat saya yang masih sering memuaskan nafsu perut yang penting kenyang dan enak di lidah, tanpa memperhatikan apakah makanan itu baik dan bisa menambah semangat saya untuk beribadah? Dari ayat ini jg jadi dapat hikmah, kalau hati lagi gak tenang dan bawaannya malas ibadah, mungkin saya perlu cek dan perbaiki makanan saya, sesuatu yang kadang luput dari perhatian saat futur. Karena ternyata setan juga mengintai makanan kita
0 komentar:
Posting Komentar